Rinjani100 Kategori 162 km : The Last Queen

Ini bukan trail run, ini bukan lagi open trip, ini menurut saya udah kegiatan ekspedisi. Menjelajahi kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani sejauh 162 km dimulai dari pantai yang sejajar dengan air laut, lalu menembus awan di ketinggian 3.726 meter sambil berkelana menembus hutan, jurang, tebing, kawah dan sabana.


😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩😩

Sebenarnya saya berniat 'pensiun' pasca finish 170 km di BTS Ultra tahun 2025. Jarak sejauh itu bagi saya sudah cukup takaran kemampuan saya. Namun ada perasaan mengganjal. Tentang Sea to Summit yang selalu gagal di tahun 2022 & 2023. Saat itu Rinjani100 kembali hadir pasca wabah Covid. Kategori 100km yang seharusnya start di Senaru, diubah menjadi Belanting. Jalur Senaru masih belum bisa dilewati pasca gempa besar 2018. Jarak bertambah, menjadi 119 km. Dua kali mencoba, dua kali gagal. Menyisakan rasa penasaran sampai sekarang. Rinjani100 100 km nya sudah, tapi the Marvelous Sea & Summitnya belum, maka tahun 2026 saya beranikan diri saya mencoba The Last Queennya Trail di Indonesia. 

Amunisi Kepercayaan Diri

Tahun lalu ada dua race yang menjadi amunisi saya untuk bekal menghadapi 162 km. Yang pertama adalah kesuksesan Rinjani100 kategori 100 km. Race ini untuk menguji kekuatan saya menghadapi rute 162 yang sangat ganas. 

Rinjani100 di bulan Mei identik cerah

Di kategori 162, bagian terberatnya terangkum di kategori 100 km.. Yang kedua adalah BTS Ultra kategori 170 km. Race ini adalah menguji sejauh mana endurance saya bisa menaklukan rute sejauh 100 miles dengan durasi tempuh yang lama. Di dua kategori tersebut saya berhasil finish strong. Dua amunisi ini yang akan menjadi motivasi saya untuk mendaftarkan diri di kategori 162 km. 

Rute 162 km, julukannya The Master Of Rinjani

Profil elevasi 162 km

Profil fasilitas di 162 km
ITRA Points 6, Mountain Level 12, dan finisher levelnya cuma 20, saya rasa ini adalah race paling berat yang pernah saya ikuti

Menikmati Sejenak Suasana Sembalun

Saya berangkat ke Lombok di hari kamis. Sebenernya ini agak mepet karena kategori 162 start di hari Jumat. Saran saya, datanglah paling lambat dua hari sebelu race supaya tubuh fit.

Memasuki Lombok

Touchdown Lombok

Shuttle ke Sembalun

Yeah akhirnya berani juga daftar kategori terjauh ini, The Last Queen

Sembalun yang selalu ngangenin

Kali ini saya berkemah di dalam Hotel Nusantara yang menjadi race central Rinjani100. Cukup membayar Rp. 100.000 saya bisa kemping dengan fasilitas toilet, charger, kolam renang dan satu kali sarapan. 
Hotel Nusantara berlatar Bukit Pergasingan

tenda kesayangan saya di bagian belakang Hotel Nusantara dengan latar Gunung Rinjani

ada Rusa Timor juga, suaranya berisik banget kedengaran sampai dalam tenda

Wajib menikmati stroberi Sembalun

Walaupun tenda saya ada di race central tadi suasananya tidak berisik karena lokasi tempat saya camp ini agak masuk ke dalam. Tapi, malam menjelang race keesokan harinya saya hampir gak bisa tidur. Saya terbangun di jam 3, saya manfaatkan untuk mempersiapkan gear dan packing barang-barang di tenda. Setelah itu saya mencoba tidur lagi, tapi udah gak bisa. Akhirnya ya tidur tidur ayam saja.
My drop bags

Menuju Belanting : Pantai Pekandangan yang Sunyi

Pelari 162 km berangkat dari Hotel Nusantara jam 6 pagi dengan menggunakan shuttle yang disediakan Panitia. Tapi ada beberapa peserta yang memilih menggunakan motor karena takut mabuk. Atau ada juga yang sengaja tinggal di Belanting supaya bisa lebih fit saat start. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam. Start akan dimulai jam 8 pagi. Lokasi start berada di Pantai Pekandangan yang berada di sisi timur laut Pulau Lombok. Di dekat sini terdapat sungai yang hulunya ada di Bukit Anak Dara.

Sampai juga di titik start. Tampak Gunung Rinjani dari kejauhan

Pantai Pekandangan di Belanting yang menjadi lokasi start Rinjani100 kategori 162 km

Grogi banget weeeh

Segmen Belanting - Bukit Anak Dara : Menembus Belantara

Khasnya event Rinjani100, diiringi kesenian Gendang Beleq yang menggelegar.

Meski start di ketinggian 0 mdpl, segmen ini justru menjadi screening seberapa kuat dirimu. Dari pantai Belanting yang suhunya sudah mulai panas di pagi hari, kami menyusuri aliran sungai berpasir dan berbatu yang kering. 

Selanjutnya memasuki hutan Keliun dengan gradien cukup terjal. Ini pertama kalinya saya melintasi hutan Keliun di pagi hari. Di Rinjani100 2022 dan 2023 saya lewat malam. Berulang kali saya hampir jatuh saking terjalnya karena mengandalkan satu trackpole (TP). 

Jalur ini bukan jalur pendakian reguler. Selain pelari Rinjani100, jalur ini mungkin hanya dilewati pemburu. Berkali-kali Race Director (RD) mengingatkan segmen ini sangat lembab jika cuaca panas. Tapi untungnya hujan turun cukup lebat dan membuat suhu panas yang dikhawatirkan tidak terjadi. Water Station WS pertama, Likun, berada di jarak 8,3 km. Saya menikmati beberapa potong buah semangka dan jeruk, tidak perlu lama-lama.

Di beberapa titik terdapat jalur yang sangat sempit, kanan kiri jurang. Untungnya, disediakan tali dan ada marshall yang berjaga. Gokil, di hutan selebat ini mereka mau jadi volunteer untuk mengarahkan pelari supaya lebih aman melewati jurang. Yang iconic dari segmen ini adalah melintasi sungai berbatu yang kondisinya sangat licin. Sungai ini berhulu di Bukit Anak Dara yang nanti akan saya lewati.

Sepanjang segmen ini saya dan Umar (pelari Lombok Timur) hampir selalu beriringan. Biasanya Umar nempel di belakang saya. Hanya saja saya menjadi kurang nyaman ketika diikuti orang lain karena akan mendorong saya mengeluarkan effort yang lebih kencang. Apalagi Umar ini termasuk pelari cepat. Makanya saya minta dia untuk bergerak duluan.  Dan sudah diduga, dia langsung melesat 😅. Gak papa, pasti akan bisa saya kejar, entah dimana!

Jalur pendakian Anak Dara

Profil elevasi segmen Belanting - Anak Dara

Setelah bergerak sejauh 14,5 km dengan top elevasi 1.312 meter di atas permukaan laut (MDPL), akhirnya saya bisa mendengar sayup-sayup suara adzan dari Sembalun. Artinya, saya tinggal turun lalu menghadapi bukit selanjutnya, yaitu Anak Dara.

Bukit Anak Dara : Ketika Awan Begitu Baik Kepada Kami

Langit yang tadinya tertutup awan kini mulai terlihat cerah. Awan menyingkir, cahaya matahari terasa menjadi terik. Saya khawatir, bagaimana bisa menggapai Bukit Anak Dara yang hanya berselimut sabana dengan kondisi matahari terik kayak gini. Untung saja begitu sampai di depan loket registrasi pendakian, awan kembali menyelimuti Sembalun. 

Puncak Anak Dara berada di ketinggian kurang lebih 1.900 MDPL. Dari Desa Sembalun bukit ini terlihat 'sangat arogan' sangat intimidatif. Gagahnya bukan main, menjulang dan bentuknya lancip. Namun, pendakian paling berat bagi saya justru bukan segmen ke puncaknya. Bagian hutan setelah pos registrasi sampai ke Pos 1 jalur Tanjakan Cinta adalah yang paling melelahkan karena curam. 

Harus diakui, saya sangat payah ditanjakan. Di pendakian Anak Dara ini saya berkali-kali disalip pelari lain. Tapi silakan, gak peduli. Ada tiga kondisi yang harus saya cegah, cedera, tersesat & haus. Apalagi Bukit Anak Dara masih tergolong segmen awal. Maka dari itu saya tetap main aman. 

Profil Uphill Bukit Anak Dara

Sampai di Puncak Anak Dara kabut makin tebal. Beberapa kali terlihat kilat dan suara petir. Tepat enam jam sejak start di mulai dari Belanting saya berhasil sampai Puncak Anak Dara. Gelang pertama saya dapatkan di sini. Turunan Anak Dara menggunakan jalur Batu Cinta, jalur yang baru dipakai sejak 2025. Jalur ini lebih curam dibandingkan dengan tanjakan Poligami. Dibandingkan tahun 2025, jalur Batu Cinta terasa lebih sulit, lebih licin, dan saya lebih sering jatuh. Ini karena beberapa hari sebelum race, Sembalun sering diguyur hujan lebat. Saat turun, Mas Kamal (teman lari asal Kalsel) mulai menyusul saya. Kami bersama-sama bergegas menuju WS selanjutnya, Desa Adat.

Oh ya saat menuju WS Rumah Adat, Bang Wefran (Podium Kerinci 100) menyapa saya sambil dibonceng motor. Rupanya beliau memutuskan Do Not Finish (DNF).

WS Desa Adat - WS Pusuk : No Return Zone

WS Desa Adat kondisinya masih hujan dan lumayan ramai dengan pelari 162 km, baik yang beristirahat maupun yang memutuskan DNF. Memutuskan DNF di WS ini adalah yang terbaik daripada memaksakan diri bergerak ke segmen berikutnya yang sangat berat dan biasa saya sebut No Return Zone. Saya punya pengalaman buruk di tempat tersebut, kisahnya dapat dibaca di sini. WS Rumah Adat merupakan salah satu WS besar yang ada di Rinjani100. WS ini dilalui oleh pelari 60, 100, dan 162 km. WS Rumah Adat banyak pilihan makanan. Dan tim support pelari, diperkenankan menunggu di sini.

Sayangnya sup yang disajikan di WS ini rasanya pedas 😅. Sebagai orang yang lambungnya kurang bisa menerima rasa pedas, ini lumayan berbahaya kalau dimakan pas lari. Untung saya ambil porsi sedikit, langsung saya kompensasi makan pisang yang banyak. Selain itu saya juga membawa perbekalan kurma satu plastik kecil.

Tanpa lama-lama saya bergegas ke segmen selanjutnya yaitu Sempana dan Pusuk. Dari WS Rumah Adat ini, Bang Ai, pelari dari Makassar, akan menemani saya sampai ke WS Senaru. Saya menyusuri jalur desa dan perkebunan yang relatif datar sejauh 5 km. Sebenarnya Bang Ai ini lumayan kencang. Dia pernah ikut 100 km Trail Of The King Toba by UTMB dan finish. Rinjani100 adalah 100 miles pertamanya. Dia selalu nempel di belakang saya.


Saya sering bilang "Bang Ai, kalau mau duluan gak papa kok silakan". Tapi dia selalu menolak, entah apa alasannya. Setiap kami berhenti istirahat Bang Ai selalu oles krim di kakinya. Mungkin supaya otot gak kaku.

Sempana, bukit ini menjadi momok paling menakutkan di segmen Crazy Course. Saya tidak pernah nyaman naik bukit ini. Jalur pendakian Sempana sama seperti tahun tahun sebelumnya, melalui Bukit Nanggi. 

Jalur pendakian Nanggi untuk menuju Sempana

Profil elevasi Uphill Nanggi

Gelang kedua ada di Bukit Sempana. Tidak ada WS di sini, hanya ada tenda voluteer yang membagikan gelang. Di sini saya bersiap-siap memasang headlamp untuk menghadapi malam yang gelap, mengenakan jaket karena melewati punggungan bukit yang tentu akan dihembus angin dari kanan dan kiri. Jalur antara Sempana sampai ke Pusuk sangat berbahaya, tipis dan kanan kiri jurang. Apalagi siang ini Sembalun sering diguyur hujan, licin.

Pemandangan sore itu sangat luar biasa. Sembalun di selimuti awan, namun puncak-puncak bukitnya masih terlihat jelas, menjadi siluet dari sinar matahari di ujung timur. Puncak Rinjani? Tentu saja terlihat sangat jelas dan tampak besar. Sementara di sebelah kiri tampak pemandangan Selat Alas yang memisahkan Lombok dan Sumbawa. Bulan purnama bersinar sempurna seolah menemani pergerakan saya menuju WS selanjutnya yaitu WS Pusuk Sembalun.

WS Pusuk - WS Gerbang Rinjani : Berpacu Dengan Matahari

Di WS Pusuk Sembalun saya berhenti cukup lama untuk makan dan memulihkan mental menghadapi jalur naik turun di antara jurang. Sayangnya makanan berat hanya ada Pop Mie. Untung saja ada baby potatoes, alias kentang kecil. Kentangnya saya remas sampai hancur saya masukan ke Pop Mie. Rasanya sudah pasti gak karuan. Yang penting makanan bisa masuk ke perut. Setelah selesai urusan perut, saya dan Bang Ais langsung bergegas menuju bukit selanjutnya, yaitu Bukit Kondo dan Sabana Propok.

Setelah WS Pusuk Sembalun saya menyusuri jalan aspal menurun sejauh 3 km menuju Basecamp Bukit Kondo. Saya full lari langkah kecil untuk merecovery betis yang mulai lelah akibat kena hajar segmen Sempana. Beberapa kali pengendara mobil dan motor yang lewat di jalur Sembalun Aikmel ini memberikan semangat kepada kami dalam kegelapan. Beberapa dari mereka sengaja menyalakan senter di hp, sungguh terharu saya. 

Memasuki loket Sabana Propok suasana berganti dengan jalur berakar. Hutan dengan pohon besar yang rapat menemani pergerakan sunyi kami menuju kawasan Sabana Propok, area yang dulunya adalah kawah.

Sabana Propok berlatar Rinjani

Menjelang plawangan Propok saya mulai menyusul beberapa pelari yang tampak kepayahan. Jalur menuju Puncak Kondo sangat tipis, kanan kiri jurang. Segmen ini memang membutuhkan fokus dan konsentrasi. Salah pijakan bisa bisa nyemplung ke jurang. Apalagi jurang sisi kiri sangat terjal.

yang paling tinggi adalah Bukit Kondo, jalurnya mengerikan bukan? TIPISS

Puncak Kondo terlihat sangat tinggi. Saya bisa menyaksikan lampu pelari yang ada di depan saya. Demikian dengan pemandangan sabana Propok yang dulunya adalah kawah. Terdapat beberapa tenda pendaki yang bermalam menikmati dinginnya sabana. Dan lagi lagi, sabana Propok di bawah sana berselimut kabut. Saya yakin suhu di sana dingin sekali.

Dengan bersusah payah akhirnya saya sampai di Puncak Kondo. Gelang ketiga saya dapatkan di sini. Tanpa berlama lama, saya melanjutkan pergerakan menuju WS Propok. Turunan menuju WS Propok lumayan landai. Saya manfaatkan dengan lari lari kecil.

Kaki ini akhirnya memijak sabana Propok. Untungnya tahun ini sabana terasa lebih kering sehingga tidak membasahi sepatu. Suhunya sangat dingin dan kabut membuat nafas jadi bengep. Sampai di WS saya berhenti sejenak untuk menikmati sajian buah.

Btw Propok ini memiliki dua sabana yang bentuknya agak melingkar. WSnya sendiri berada di sabana 1. Saya melanjutkan pergerakan ke sabana 2. Konturnya datar dan sebenernya enak buat lari. Namun supaya menghemat energi saya lebih memilih jalan cepat.


Uphill selanjutnya adalah rangkaian perbukitan Cemara Ellen, Bukit Amben, Bukit Lincak dan turun ke sabana Dandaun. Jalurnya menyerupai huruf C, jadi saya bisa melihat pelari yang jauh di depan saya 🤣🤣

Saya sudah pernah 2 kali melintasi perbukitan ini. Dari awalnya yang terasa menakutkan, menyebalkan, dan akhirnya mencintai  tempat ini. Bukit ini indah banget kalau pagi hari. Bukit ini seolah menjadi pembatas antara Desa Sembalun dengan Rinjani. Kita bisa menyaksikan indahnya perkebunan di Sembalun yang menyerupai mozaik di sisi kanan. Sementara di sisi kiri, Gunung Rinjani terasa sangat dekat.

Setelah menggapai Lincak, selanjutnya adalah turun menuju Sabana Dandaun. Karena masih gelap, saya bisa menyaksikan cahaya lampu dari tenda tenda pengunjung nun jauh di bawah sana. Turunannya sangat terjal. Marking dibuat berliku liku tapi tetap saja, rasanya kok ya gak sampai sampai. Karena jalur ini adalah campuran tanah dan bebatuan, risiko tergelincir menjadi sangat tinggi.

Turunan Lincak ke Dandaun

Depan saya adalah pelari Belgia dan dia sering terjatuh. Saya berhasil menyusul dia, dan akhirnya saya tiba di WS Dandaun. WS ini lumayan besar. Saya makan Popmie dan buah.

Saya lanjutkan pergerakan menuju WS dan Drop Bag Gerbang Rinjani. Lokasi WS ini baru ada tahun ini. Tahun lalu drop bag ada di Pos 2 Sembalun. Namun karena alasan akses, lokasinya dipindah. Jalurnya dibuat berliku liku. Kadang Rinjani ada di depan muka, kadang di samping kanan, kadang di kiri. Asli menyebalkan sekali. Belum lagi sering banget nginjek kotoran sapi yang berceceran sepanjang jalur, aiiiih, menjijijkan betul pokoknya.

WS Gerbang Rinjani - Puncak Rinjani : Pasrah Seandainya Over Cut Off Point

Memasuki jalan aspal saya belok ke kiri. 1,7 km kemudian saya sampai di WS ini. Gak ada makanan berat 😭 akhirnya saya masak nasi naraga TNI. Untung ada kompor petugas WS di sana. Aroma nasi instant ini sedap sekali, lumayan menambah nafsu makan. Saya dengan lahap langsung menghabiskan nasi ini. Saya ganti kaos kaki dan mencicipi beberapa potong buah dan kurma.

Profil elevasi Bukit Tiga - Puncak Rinjani

Saya harus bergerak sesegera mungkin menuju check of point (COP) yang ada di Plawangan Sembalun. COPnya 26 jam dan saya optimis bisa mencapai Plawangan sebelum jam 10. Tidak jauh dari WS saya melihat pelari dengan vest yang mengkilat terkena cahaya. Saya bilang "Bagus sekali vestnya bisa nyala gitu". Dia membalas, "Lho Mas Iwan". Saya terkejut, ternyata dia adalah Umar 😅. Nah kan benar saya  berhasil menyusul Umar 🤣. Sudah saya prediksi, Umar pasti dah lemas, karena memang dia ngegas sekali di segmen sebelumnya. Saya mengajak dia jalan bareng ke Plawangan Sembalun. Oh ya saya sempat jatuh terjerembab dekat salah satu jembatan yang ada di jalur. Akibatnya lutut saya mengalami luka yang sebenernya gak terlalu parah tapi lumayan banyak darah. Untung gak sampai pengaruh ke gerak.

Sang tuan rumah

Di Pos 2 matahari mulai menampakan diri. Cuaca cerah sekali dan pemandangannya, luar biasa. Asliiii, cuaca tahun ini adalah yang terbaik sejak saya pertama kali ikut Rinjani100. Rinjani terpampang gagah dan cantik sekali di depan mata. Saya tidak merasa terintimidasi, justru malah termotivasi supaya bisa menggapai Plawangan Sembalun secepat mungkin. 

Di Pos 4 saya beristirahat sejenak untuk persiapan tanjakan terberat yang ada di Plawangan Sembalun. Di sana saya menjumpai Fahri dan Bang Mamel, pelari kategori 60 kejar kejaran. Seru sekali melihat mereka downhill. Bang Mamel sebenernya pengen menghampiri saya, tapi saya bilang "Nanti aja salamannya, kejar dulu pelari depan itu". Bang Mamel pun langsung ngaciir (pada akhirnya Fahri dan Mamel finish bareng sebagai podium 1 dan 2).

Tanjakan selanjutnya biasa orang bilang bukit penyesalan. Tapi bukit penyesalan yang asli bukan tempat ini. Lokasinya ada di seberang kanan yang sudah tidak dipakai lagi. Saya lumayan kepayahan di sini. Sering berhenti beristirahat, mengeluh dan sumpah serapah 🤣.  Cuaca juga makin panas. Pokoknya berat sekali. 

Jam 8.25 akhirnya saya sampai di WS Plawangan Sembalun, satu setengah jam sebelum batas COP di jam 10. Kemenangan pertama yang membuat saya yakin bisa menyelesaikan 162 km. WS Plawangan Sembalun lokasinya tahun ini ada di Plawangan 4 semakin mendekati jalur summit. Saya sudah mencapai 80an km, artinya setengah perjalanan. Tapi segmen paling berat masih menanti, summit Puncak Rinjani. Ingat, segmen ini segmen paling berat race mana pun di Indonesia. Gak ada trek uphill 3 km yang ditempuh berjam-jam selain di Rinjani100

Summit Rinjani, saya mulai sekitar jam 10 pagi. Cuaca sangat cerah nyaris tanpa awan. Saya sudah yakin ini pasti akan terasa panas menyiksa. Saya selalu beranggapan, kategori 162 km ini adalah kumpulan dua event trail. Satu event sudah saya lalui yaitu Belanting ke Plawangan Sembalun dan saya berhak mendapatkan 'setengah medal'. Sementara segmen summit Rinjani sampai garis finish ini adalah segmen kedua. Walau berat saya yakin bisa menghadapinya. "Tidak perlu kencang, yang penting sampai" kalau kata Dede Hilman.

jalur summit

Jalur summit sudah banyak dilewati pendaki dan pelari Rinjani100 baik yang kategoru 60 maupun yang 100. Akhir pekan ini bertepatan dengan long weekend hari buruh, sementara pelari 60 dan 100 km tahun ini jumlahnya rekor dari sebelumnya. Sudah tentu jalur summit yang berkerikil dan berpasir itu makin gembur. Artinya semakin sulit dipijak. Benar saja, jalurnya gembur sekali. Saya tetap menargetkan 3 jam sampai Puncak Rinjani. 

Sepanjang jalur summit banyak pelari yang sudah turun. Entah berapa kali saya disapa oleh teman baik di dunia nyata maupun dunia maya. Senang sekali melihat mereka mampu summit dengan catatan waktu yang lebih cepat dari saya tahun lalu. 

ketemu Mas Agus & Mas Aswin

ketemu Mas Eko dari Karawang

Ketemu Mas Tom dari Wonosobo yang ikut kategori 60 km

Saya berpas-pasan dengan Tuan Ismail yang sudah turun. Beliau adalah pelari Malaysia yang catatan waktunya saya jadi patokan. Dia mengingatkan, bahwa waktu sangat 'tight', harus segera turun dan beranjak ke Senaru. Saya jadi agak panik, karena memang di Plawangan Sembalun saya berhenti lumayan lama.

Di letter E, sebuah tempat menjelang puncak dengan kondisi jalur yang sempit, pergerakan saya benar benar semakin payah. Jalur ini benar benar gembur. Beberapa kali saya berdiam diri menghimpun tenaga. Akhirnya saya menggunakan pola 10 - 5, 10 melangkah, lima hitungan berhenti. Cara ini lumayan efektif supaya saya tidak terlalu lama berdiam diri. 


Jam 11.51 saya menginjakan kaki di Puncak Rinjani. Di Rinjani100 tahun tahun sebelumnya, saya langsung turun tanpa foto-foto dengan plakat. Tapi kali ini saya harus foto dengan plakat puncak Rinjani100 yang istimewa dan limited edition ini. Di Puncak Rinjani saya mendapatkan gelang keenam.

Puncak Rinjani - Plawangan Senaru : Menikmati Keindahan Kaldera Rinjani

jalur turun ke Segara Anak

Turun dari puncak Rinjani saya langsung bergegas menuju Segara Anak dan Plawangan Senaru. Baru saja saya berbelok ke kiri dari percabangan turun ke danau, Sange Sherpa muncul. Gila ini orang, secepat ini sampe Plawangan Sembalun dari Torean. Wkwkwkwkwk. Turunan menuju danau ini sangat menyenangkan. Meski berbatu, agak runable asal tetap hati-hati saja.

Ternyata Bang Ais ini selalu minum coca cola. Karena bawaannya sudah habis, kami mampir di sebuah warung yang ada di Danau Segara Anak. Harga sebotol Coca Cola ukuran kecil Rp. 50.000, edyaaaann,, mahal banget. Dan Bang Ai beli dua, satu buat saya. 😅😅😅

Sohib baru saya di Rinjani100, Bang Ai

santai sejenak di tepi Segara Anak

Saat menyeberang sungai, saya membuka sepatu supaya tidak basah. Saatnya melipir tepian danau menuju jalur pendakian ke Plawangan Senaru yang berbatu. Inilah pertama kali saya uphill ke Plawangan Senaru  dalam kondisi terang. 

keren abis

Jalur ini sempat terkena longsor hebat saat gempa Lombok 2018. Akibatnya perubahan rute Rinjani100 yang startnya di Senaru menjadi di Belanting. Kategori 60 menjadi 75, sedangkan kategori 100 menjadi 119. 

Keren banget Segara Anak

Profil elevasi Danau ke Plawangan Senaru

Jalurnya lumayan sempit melipir tebing. Di beberapa bagian sampai harus dipasang tali dan tangga besi supaya mempermudah pendaki memanjat jalur. Saat saya naik, banyak wisatawan yang turun Rinjani melalui jalur Senaru. Akibatnya saya harus rela mengantri dan membuat target sampai Plawangan Senaru jadi agak molor.

Plawangan Senaru - Desa Senaru : Hutan Belantara Tiada Akhir

Pukul 17.44 sampai di WS Plawangan Senaru saya beristirahat sejenak. Di sini saya mencari sinyal dan untungnya sinyal Telkomsel masih bisa nyangkut 1-2 bar.  Banyak sekali update yang masuk salah satunya adalah pelari 162 km mulai banyak yang DNF, salah satunya Umar.

Profil elevasi Plawangan Senaru ke Desa Senaru

Jalur turun dari Plawangan Senaru ke Desa Senaru sejauh 9 km melintasi hutan belantara. Jalurnya sangat panjang. Saya melewati jalur ini saat hari sudah gelap. Dulu saya pernah mendaki dan turun lewat Senaru. Rasanya hutan Senaru kali ini lebih panjang. Saya sampai berpikir apakah ini jalur yang sama atau saya sengaja 'diputar-putar' lewat jalur yang sama 😅. Pokoknya saya sampai mengeluh ke Bang Ais "Ini kenapa sih gak sampe-sampe". Btw, jalur Senaru terutama di Pos 2 terkenal sekali dengan kisah menyeramkan, terutama soal hantu wanita berkostum putih alias kuntilanak. Tapi ketika saya lewat, suasana Pos 2 sudah berubah. Bangunan shelternya bagus sekali, bentuk berugak khas rumah tradisional Lombok. Kondisinya juga sedang ramai dengan para pendaki yang sedang berkemah. Tapi soal semakin panjangnya jalur Senaru ini masih belum terpecahkan sampai tulisan ini saya buat.

Perasaan menjadi lega setelah saya melihat bangunan gerbang pendakian Senaru. Tapi posisi WS Senaru masih lumayan jauh dari sini. Saya masih harus bergerak turun sampai ke kawasan wisata air terjun Sendang Gile & Tiu Kelep. Jam 20.41, saya akhirnya sampai di WS Desa Senaru. Rencananya saya mau istirahat tidur setengah jam. 

Saya agak terkejut, ternyata lokasi WS nya ada di sebuah warung makan. Bukan di tenda peleton yang ada veldbed nya seperti tahun lalu. Dan celakanya, tidak disediakan tempat untuk tidur. Hadeeh. Karena keukeuh mau tidur, saya tanya ke petugas adakah tempat untuk sekedar menggeletak? Akhirnya saya disediakan matras di antara drop bag pelari. Suasananya kurang kondusif buat tidur. Badan saya juga mulai demam, efek kepanasan saat summit di Puncak Rinjani. 

Saya tanya ke medis obat untuk menurunkan panas. Saya dikasih satu tablet paracetamol. Seorang petugas medis datang ke saya. Dia menyarankan saya tidak perlu memaksakan untuk lanjut menyelesaikan race. Saya hanya mengangguk angguk saja, lalu saya bilang tetap akan melanjutkan sisa rute yang ada. Kondisi demam semacam ini sering saya alami kalau ngerasa kepanasan dan itu hanya sementara. 

Karena saya masih belum bisa tidur, saya putuskan tetap lanjut. Beberapa pelari yang juga sedang beristirahat di WS Senaru mengatakan, waktu yang tersisa sekarang tidak akan cukup mencapai garis finish sebelum 55 jam. Dalam hati saya berguman.

" AFFAH IYAH 😳"

Saya yakin masih ada harapan sampai finish line sebelum jam 15. Apalagi kalau lihat di live tracking, banyak pelari termasuk Hariri, masih berada di hutan Torean. Sobat saya, Bang Ais, ternyata juga ikut-ikutan gak lanjut  😑. Yaaah kok ikut-ikutan pesimis sih.  Baiklah, saya akan jalani sisa rute ini sendirian. 

Sebelum lanjut saya mempersiapkan segalanya, logistik, ganti kaos kaki, ganti baterai dan mengganti insole sepatu. Btw Sop di WS ini weeeenak banget. Saya rasa inilah makanan terenak yang disediakan oleh Rinjani100. Segmen berikutnya adalah Desa Senaru - Desa Torean yang saya sama sekali belum pernah lewati. Oh ya di WS Senaru ini saya mendapatkan gelang kelima.

Desa Senaru - Desa Torean : Jalur Macam Apa Ini

Saya sempat underestimate dengan segmen ini. Prediksi saya 40 menit bisa sampai. Ternyata tidak saudara-saudara. Setelah WS Senaru jalur ini masuk kawasan wisata air terjun Tiu Kelep dan Sendang Gile. Termasuk melewati jembatan lubang yang khas itu. Kemudian jalur diarahkan melintasi perkebunan dengan pohon-pohon yang rapat. Markanya sangat renggang dan jauh, sehingga saya sering tersesat. Hanya di segmen ini lah saya akhirnya harus melakukan navigasi menggunakan HP.  Di antara semua jalur 162, jalur ini yang paling menjengkelkan. Tidak sesulit segmen lain, tapi pokoknya menjengkelkan. Saya dengar-dengar, pemasang marka di jalur ini bukan tim Bandung. Pantesan kacrut banget sumpah.

Segmen paling menjengkelkan, Desa Senaru ke Desa Torean

Jalurnya sering banget melintasi tanggul saluran irigasi yang membuat rasa ngantuk saya sekejap hilang. Bahaya sekali, salah melangkah akibatnya antara kecebur ke sawah atau nyemplung ke saluran irigasi. Yang paling menjengkelkan adalah adanya marka yang salah pasang ke arah dasar sungai. Padahal kalau sesuai jalur, markanya belok ke kanan, ini malah lurus ke arah sungai. Sebelumnya saya memang sudah diingatkan sama Mas Sam (pelari Rinjani100 tahun 2024) di segmen ini banyak yang nyasar. Salah satu cara untuk mengatasi ini adalah di aplikasi GPX saya pasang 4 tracklog milik beberapa pelari sekaligus termasuk official. 

Akhirnya saya sampai di Desa Torean jam 23.39. Di sana ada teman saya dulu ketika tugas di Lombok, Om Abas dan Lutfi. Sajian makanan dan minuman di WS pun melimpah ruah.

WS Torean

Para penjaga WS Torean Lutpi (baju hitam) dan Om Abas. Mereka berdua adalah sahabat saya ketika tugas di Mataram

Desa Torean - Plawangan Sembalun : Tangisan Dalam Hutan

Profil elevasi Desa Torean - Plawangan Sembalun

Di WS Torean saya tanya ke Lutfi, berapa estimasi sampai ke Plawangan Sembalun. Lutfi bilang 4 jam, huwaaww, rasanya kalau saya dengan kondisi kayak gini gak mungkin ya. Hahahah ya sudah jalani saja. Om Abas info kalau pelari di depan saya gak terlalu jauh. Baiklah, saatnya bergerak menyusuri tanjakan panjang.

Sampai di Pos Ojek saya melihat pelari di depan saya tadi tidur di warung. Ternyata saya lupa isi air di WS Torean. Akhirnya saya mampir di warung dan membeli dua botol air yang isinya saya masukan ke water bladder. 

Beranjak dari warung, saya mulai memasuki hutan jalur pendakian Torean yang sangat panjang dan gelap. Cahaya bulan tidak mampu menembus lebatnya hutan. Saat itu saya hanya sendiri, tidak ada orang yang bisa terlihat di depan maupun di belakang. Jujur, saya ini aslinya penakut, ada barang ketinggalan di kantor saja, saya minta satpam buat nemenin. Tapi karena rasa capek yang amat sangat, menenggelamkan pikiran tentang hantu dan hal lain yang menakutkan. 

Setelah berjalan sendirian beberapa saat, dari kejauhan tampak sorot cahaya putih terang sekali, ternyata scahaya itu berasal dari Pos TNGR. Tampak banyak tenda pendaki yang didirikan di areal pos. Semua orang di sana sepertinya sudah tidur, sepi sekali. Saya kembali melanjutkan perjalanan menembus hutan. 

Tanjakan jalur Torean ini sangat panjang, membosankan, gelap total, hanya cahaya dari reflektor marka yang menjadi petunjuk arah langkah kaki yang mulai oleng. Akhirnya rasa putus asa itu muncul. Cek posisi di HP, dan saya berada persis di tengah-tengah hutan jalur pendakian Torean. Benar-benar di tengah belantara. Saya lihat jam tangan, dan saya yakin waktu tidak akan pernah cukup sampai finish sebelum jam 15. Jalur pendakian Torean ini salah satu yang terpanjang di Rinjani, menanjak konsisten dan sangat berbahaya karena jurang semua isinya. 

Saya duduk di area datar samping pohon besar. Tangan saya melipat di atas lutut dan menundukan kepala. Saya menangis sejadi-jadinya di tengah hutan. Kenapa saya gak percaya kata pelari tadi di Senaru kalau waktu memang sudah tidak cukup. Kenapa saya tetap nekat bergerak. Bukankah kalau saya DNF di Senaru atau Torean, aksesnya lebih enak untuk kembali ke Sembalun. 

Dalam suasana kalut itu tiba-tiba saya merasa relax. Emosi yang sudah sejak Jumat tersimpan, bisa terluapkan. Rasa lelah sudah mulai menghilang diganti rasa ngantuk yang sangat berat. Saya tertidur.

Ketika terbangun saya melihat lampu pelari datang mendekat. Ternyata pelari Malaysia yang belakangan saya ketahui namanya Melveen Darius. Melven sepertinya adalah pelari yang saya jumpai tadi di warung Torean. Melveen mengajak saya untuk terus bergerak dan optimis, pasti bisa sampai Plawangan Sembalun sebelum jam 7 pagi.

Tapi, Melveen sepertinya juga sudah kepayahan. Beberapa kali dia mempersilakan saya buat jalan duluan. Headlampnya Melveen khas, depan putih belakang merah. Sehingga ketika dia jalan duluan, saya masih bisa liat cahaya lampunya yang berwarna merah. 

Suara aliran sungai memecah suasana hening belantara malam. Artinya, segmen hutan jalur Torean selesai berganti dengan jurang terjal antara Plawangan Sembalun dan Gunung Sangkareang. Air terjun Penimbungan menyambut saya dengan suara gemuruhnya yang keras membelah keheningan malam. Saya merinding, air terjun ini kalau tengah malam sangat terasa mistisnya. Air nya terlihat jelas mengucur deras berwarna putih kristal, bercahaya terkena pantulan cahaya bulan. Jurangnya sangat mengintimidasi. Sumpaaaah, gak pernah saya merinding kayak gini. 

Air terjun Penimbungan

Saya harus cepat bergerak, tempat saya berpijak untuk melihat air terjun itu adalah area berbahaya. Sebelah kanan tebing terjal, sebelah kiri jurang yang sangat dalam. Saya terus melaju mengikuti jalur setapak berbatu dan marka. Sesekali saya kepeleset, tapi tidak sampai terjatuh, karena ada trackpole yang menyangga saya. 

Sampailah saya di tempat paling iconic jalur Torean, Jurang Banyuurip. Jalur di sisi tebing dengan tali sebagai alat bantu untuk melintas. Setahun lalu ada pendaki meninggal akibat jatuh di tebing ini. Lah ini saya lewat dalam kondisi gelap tengah malam. Saya gak mau ambil risiko. Saya pegang erat-erat tali itu, sambil berjalan. 

Jurang Banyuurip, spot iconic jalur Torean


jalur Torean saat pagi

Jalur berisiko lainnya adalah melintasi jembatan Kali Kokoq Putih yang membelah jurang Torean. Jembatan ini terbuat dari beberapa batang kayu yang cukup panjang. Jika salah pijak dan tercebur, tamat sudah. Dengan langkah hati-hati, saya melewati kayu yang lumayan terasa goyangannya. Alhamdulilah, saya berhasil menyeberang dan melanjutkan pergerakan ke arah Segara Anak. 

Di area goa susu ada tanjakan yang jalurnya lumayan lebar. Rasa ngantuk kembali muncul, kali ini lebih hebat. Melveen masih jauh di belakang, terlihat dari cahaya head lampnya. Akhirnya saya kembali tertidur. Ketika bangun, Melveen ternyata sudah di depan saya. Saya agak panik. Saya langsung mengarahkan headlamp ke Melveen. Melveen membalas dengan menggerakan headlampnya. Saya tertatih-tatih ngikutin langkahnya, padahal dia sendiri sepertinya sengaja melambat supaya saya bisa nyusul dia. 

Akhirnya kami kembali berjalan beriringan cukup lama. Langit mulai terlihat semakin terang, artinya hari sudah mulai pagi. Kami sampai di pertigaan antara jalur Torean, Segara Anak dan Plawangan Sembalun. Pertigaan ini sudah saya lewati kemarin sore. Tujuan kami berikutnya adalah Plawangan Sembalun. Meski jalur menuju plawangan sangat terjal, saya merasa masih ada harapan bisa finish under COT. Kali ini Melveen langsung melesat meninggalkan saya. Pergerakannya di tanjakan mantap sekali. Sementara saya masih tertatih-tatih menghadapi tebing terjal di bawah Plawangan Sembalun.

Plawangan Sembalun - Bukit Telaga : Sudah Tidak Ada Harapan

Saya sampai di Plawangan Sembalun jam 7.35 dengan kondisi sudah terang benderang. Puncak Rinjani terlihat sangat jelas. Demikan kawasan Sembalun pun terlihat dari kejauhan. Saya berpaspasan dengan pelari kategori 36, baik yang akan menuju Puncak Rinjani maupun yang sudah turun. Saya mampir sejenak ke WS kategori 27 km. Saat itu belum ada pelari 27 km yang masuk ke Plawangan Sembalun. Jadi makanan yang disajikan masih rapih banget 😅. Istimewanya WS ini ada brownis cokelat, saya kalap, langsung makan tiga potong. 


Salah satu petugas WS yang ada meyakinkan saya masih bisa ngejar COT asalkan tetap gerak. Baiklah, saya mulai bergegas turun. Kondisi Plawangan Sembalun jalurnya cukup nyaman, agak basah karena hujan. Jadi pijakan terasa 'lebih lengket' gak mudah tergelincir. Selain pelari yang naik dan juga turun, di jalur ini saya sering berpas-pasan dengan porter. Saya memilih menahan diri menunggu mereka lewat mengingat beban yang mereka bawa juga pasti berat. 

menjelang Pos 2 Sembalun

Pergerakan dari plawangan sampai di WS Pos 2 saya setel agak santai karena jalurnya yang kurang runable, terlalu terjal untuk dilariin. Baru setelah Pos 2 saya agak ngegas menuju WS Bawak Nao. Di dekat gerbang pendakian Rinjani Kandang Sapi, saya sempat memborong es krim dengan rasa buah-buahan asam. Lumayan, memperbaiki mood lari. Di WS Bawak Nao saya tidak terlalu lama berhenti, saya hanya minum coca cola. Selepas WS Bawak Nao saya melihat selokan dengan air jernih yang mengalir deras. Berhubung cuaca panas sekali, saya langsung ambil gelas plastik bekas buat ambil air selokan tadi terus guyurin ke badan. Beuuuh seger.

Video ketika saya merasa pesimis bisa menyelesaikan The Last Queen sebelum jam 15.

Selanjutnya adalah uphill Bukit Pergasingan. Ini kali ketiga saya mendaki Pergasingan melalui jalur Tanakabang. Jalur menanjak sejauh 5 km, dan saya sudah berdamai dengan segmen uphill panjang ini. Kali ini entah kenapa rasanya enjoy, sangat menikmati. Cuaca juga tidak seterik tahun lalu. Sampai di Puncak Pergasingan saya mendapatkan gelang keenam. Saya langsung bergegas downhill dengan jalur yang lumayan curam. 

Sampai di bawah Pergasingan saya kembali berjumpa dengan penjual es krim. Saya langsung borong empat es krim yang rasanya asam asam manis. Tidak disangka, saya juga berjumpa dengan Fadlul dan Mas Editia, dua kakak beradik yang ngasih suport saya. Waaaah mood booster banget ini terima kasih banyak ya. Mereka juga ikut Rinjani100 kategori 60 dan 100. Tapi sayangnya mereka DNF. Mengingat waktu makin mepet jalur datar sejauh 5 km antara Pergasingan dan WS Rumah Adat saya kebut. Waktu menunjukan sisa tiga jam lagi sebelum batas waktu pukul 15.00. 

Di WS Rumah Adat saya langsung minta ke seseorang yang gak saya kenal apakah ada air segayung untuk mandi. Mereka adalah Sansan dan Robi. Robi langsung masuk ke toilet yang ada di Desa Adat itu, dan ternyata beneran dibawain air seember. Sebelumnya saya gak kenal dan mereka bukan panitia Rinjani100. Saya langsung mengguyur air ke badan supaya mencegah heatstroke dan memperbaiki mood yang udah agak hopeless karena waktu mepet. Robi malah keliatan lebih panik sama sisa waktu saya, dia sering nengok jam tangannya. 

Ada juga seorang wanita (tampaknya tim support dari Malaysia) yang mengingatkan saya bahwa masih possible buat finish tapi harus tetap gerak. Apalagi setelah Bukit Telaga nanti harus tetap lari. Baiklah.

Tanpa berlama-lama saya langsung gass pol ke Bukit Telaga. Jalur ke Bukit Telaga lumayan datar sejauh 5 km melewati perkebunan sayur milik warga. Dan sialnya, TP saya ketinggalan di WS Rumah Adat tadi. Untungnya, Robi dan Sansan ngasih saya air buat mandi mengantarkan TP pakai motor. Setelah melewati kebun yang berlika liku, akhirnya saya memasuki jalan raya. Inilah saatnya menghadapi bukit pamungkas, Bukit Telaga yang gradiennya membuat nyali gentar.

Bukit Telaga, tanjakan terakhir sebelum menyentuh garis finish

Bukit Telaga - Finish Line : GW BISAAA

Jam 13.30 saya sampai di jalur masuk menuju pendakian Bukit Telaga. Waktu saya sisa 90 menit lagi sebelum batas COT. Artinya saya harus uphill secepat mungkin ke Puncak Bukit Telaga. Dan sumpah, ini terlalu mepet 😅.

Pendakian Bukit Telaga kali ini saya gak mau pakai cara normal. Saya benar-benar merayap kayak laba-laba, menggunakan dua tangan dan dua kaki secara bersamaan untuk menghemat energi. Bukit ini menjadi momok menakutkan bagi pelari kategori 60 dan 160 karena gradiennya yang mencapai 43 derajat. Kondisi Bukit Telaga tahun ini sudah sangat nyaman. Tersedia tali untuk membantu pendakian. Tahun 2024 beuuuh mengerikan. Rumputnya masih panjang dan jalurpun gak jelas.

Tiga puluh menit saya sampai juga akhirnya di puncak Telaga. Yang pertama saya cari adalah gelang terakhir. Saya teriak mencari marshall di Bukit Telaga "MANA GELANG WOI, DIMANA GELANGNYA". Lalu terdengar suara sautan marshall dari arah kanan. Saya langsung lari ke sumber suara dan akhirnya gelang ketujuh sekaligus gelang terakhir berhasil saya dapatkan. ALLAH AKBAR, YAKIN LAH BISA FINISH

Gelang terakhir di Bukit Telaga

Rasa optimis saya bisa menyelesaikan sisa jalur yang ada sekarang sudah di level 99%. Saya punya waktu satu jam lebih buat sampai ke Hotel Nusantara, lokasi finish line. Saya langsung downhill sengebut-ngebutnya melintasi jalur yang lumayan runable. 

Saat saya turun dari Bukit Telaga, notifikasi HP saya ramai sekali. Telepon, WA, Telegram, IG, tapi saya gak mau buka karena pasti akan banyak buang waktu sementara waktu mepet banget. Saya baru tau kalau alat live tracker yang saya bawa mati di Puncak Telaga karena kehabisan baterai, makanya teman-teman pada panik dipikir saya DNF 😅

Ada sekelompok pendaki Sabana Dandaun di jalur saya teriakin "PERMISIIIII SAYA NGEJAR WAKTU, MAAF  MAAF MAAF, PERMISI" dan baiknya mereka langsung menyingkir memberi saya jalan dan menyemangati saya "PASTI BISA FINISH MAS". Tahun lalu di jam yang sama, Sembalun dalam kondisi hujan, saya masih ingat betul. Tapi sekarang, beeuuuhh panasnya membara. 

Satu km menjelang finish ternyata banyak teman-teman saya yang sudah menunggu. Ada Mas Bima, Umar, dan Abe. Ditambah Robi dan Sansan yang sudah membantu saya di Desa Adat tadi ternyata sudah menunggu. Mereka merekam saya bergerak sampai garis finish. Saking halunya, saya sempet hampir salah masuk gate finish 😅.

Pada akhirnya, saya bisa finish 162 km dengan waktu 54 jam 50 menit (10 menit sebelum COT), MASIH BISA LONCAT.  Dan saya adalah pelari terakhir yang berhasil finish. Saking bahagianya, saya gak mampu lagi menahan emosi. Seumur-umur saya lari, baru kali ini saya sampai menangis. Gak tau air mata ini bisa-bisanya tumpah 😅

Masih bisa loncat
Masih gak percaya

Mak Iwed yang selalu mempermudah urusan saya di Lombok

Video menit menit menjelang saya finish


Saya langsung ngecek daftar finisher, saya ada di urutan terakhir. Tapi bentar, kenapa gak ada nama Mellveen, harusnya dia ada di depan saya. Saya coba replay live track, ternyata Mellveen salah jalur. Setelah sampai Plawangan Sembalun seharusnya pelari 162 km langsung turun ke arah Bawak Nao. Tapi Mellveen malah belok kanan ke arah WS Plawangan Sembalun. Aaah inilah pentingnya mengikuti race briefing.

Pasca Finish : Masih Belum Percaya 
Sepanjang saya ikut event lari, baru kali ini berada di urutan terakhir dan mepet COT pulak. Padahal selama menyusuri rute sejauh 162 km ini, saya hampir ga pernah berhenti istirahat dalam waktu lama. Di WS besar pun paling lama sekitar 15 menit.  Ini membuktikan bahwa 162 km Rinjani memang benar benar race yang sulit. Katja Fink, ahli imunologi dunia yang pernah mengikuti Rinjani 162 miles bilang "this race absolutely difficult". Beliau pernah ikut 162 km versi cot 50 jam. Dia finish over cot 54 jam dan kayaknya sejak itu waktu COT 162 km disesuaikan jadi 55 jam.

lengkap!!!

Masih bisa menjadi finisher The Last Queen

Walaupun terlihat sulit saya masih percaya apa yang ditulis Mas Sam diblognya. Bahwa 162 itu achievable asalkan kita mampu mengatur pace, manajemen logistik dan manajemen istirahat. Saya masih menggunakan strategi timeline, menjadikan catatan waktu finisher paling lambat tahun lalu sebagai acuan. Karena saya hanya ingin finish under COT

Mindset saya terhadap 162 km ini adalah membuatnya seolah olah jadi dua event yang berbeda dengan batasnya adalah COP di Plawangan Sembalun. Kebetulan jaraknya pas di km 80-an. Finishnya saya di kategori 162 km ini juga melunasi unfinished business Rinjani100 2022 dan 2023 di kategori 119 km. 
Terima kasih Bang Ozi yang mengenalkan saya Gunung Pancar

result saya, urutan 22. Padahal saya sempat beberapa kali ada di urutan 40-50an 😅

Timeline saya Kolom Iwan 2026 adalah durasi, Iwan Wita adalah waktu WITA

Ketemu Kang Arief Wismoyo di Bandara Lombok pas pulang ke Jakarta. Kami satu pesawat. Kang Ayip, nama panggilannya adalah pelari Indonesia tercepat di Rinjani100 Kategori 162 km Tahun 2026. Selisih waktu dengan saya 5 jam 20 menit. Salah satu monster endurancenya Indonesia


tempat medali saya sudah penuh, The Last Queen sudah terpasang diujung kanan. Menandakan medali dengan jarak terjauh yang pernah saya lakukan (urutan medali sort by distance kiri ke kanan). Rinjani100 162 km ini adalah race terakhir, selain memang sudah gak ada lagi yang lebih berat dari ini, saya harus segera mendapatkan "tindakan medis", dokternya sudah ngamuk ngamuk karena empat kali saya pending  😂 dia mau sekolah sub spesialis soalnya.

Renungan Diri
Menurut saya, Rinjani100 Kategori 162 ini sangat berat, sangat sangat berat. Hanya untuk jiwa jiwa tenang dan pemberani. Tenang dalam mengontrol emosi dan berani dalam mengambil keputusan. Bukan hanya soal jaraknya yang jauh, tapi tanjakan dan turunannya yang sangat curam serta jalurnya banyak yang berbahaya. Bagi pengidap fobia ketinggian, sangat tidak direkomendasikan. Bagi orang yang kagetan dan takutan Rinjani100 kategori ultra (60, 100, 162) juga sangat tidak saya rekomendasikan. Rute dan pemandangannya memang sangat indah jika kita sedang bertamasya, tapi menjadi monster mengerikan saat race berlangsung. 
jarak lari saya selama satu tahun

elevasi training saya selama satu tahun

Race ini benar-benar hanya untuk mereka yang sudah berdamai dengan yang namanya naik turun elevasi. Bagi pengincar kemeriahan WS atau racepack, sorry, Rinjani100 bukan event yang tepat. Mereka minimalis sekali tapi efisien termasuk soal WS. Sepertinya, setiap kali ikut event ini saya nyaris full self support. Tapi bukankah itu esensi dari ultra trail? Yang saya butuhkan adalah marka yang jelas, informasi rute yang up to date dan run guide yang komprehensif. 

Instinct survival sangat diuji di tempat ini. Sebaik apapun gearmu jika tidak mampu mengatur ritme gerak, tidak ada gunanya. Sebaik apapun kamu menyusun timeline, tanpa latian, rest, dan nutrisi yang proper, hanya akan menjadi tabel angka tanpa makna. Beberapa pelari 162 km banyak yang tampil sangat minimalis, tapi dia mampu menyelesaikan tantangan ini dengan baik. Sebut saja Mas Fauzi. Saya masih ingat kata-katanya, SEMUA KITA YANG NGATUR. Dan yeaaah terbukti. Mau sampai kapan kamu selalu tergantung sama penyelenggara? Mau sampai kapan kamu mengeluh soal cuaca? Mau sampai kapan kamu mengeluh dengan track brutalnya Rinjani? Sampai kapan kamu mau nego waktu COT? Nyatanya yang lain bisa finish.

Berhentilah merasa istimewa di hadapan Rinjani, karena yang istimewa hanyalah Sang Dewi Anjani.
Meski rate finishernya selalu rendah dikisaran 20-30% untuk yang 162 jumlah finishernya banyak peningkatan dibanding tahun tahun sebelumnya termasuk pelari asal Indonesia

 
Peta Rute Rinjani100 162 km  




Finisher Indonesia pertama Kang Ayip, bercerita lebih jelas tentang gambaran rute 162 km Rinjani100


Komentar