Akhirnya sampai juga di jalur keliling Gunung Lawu, seri terakhir jalan kaki keliling gunung 😉
Dari Jakarta saya naik bus Sumber Alam menuju Jogja, dan rencana nyambung menggunakan KRL ke Solo lalu bus ke Tawangmangu. Kenapa mampir di Jogja? Karena ada rencana buat plesiran singkat dan rasa kangen sama gudeg. Saya yang pertama kali menggunakan Bus Sumber Alam baru tau kalau bus yang saya tumpangiternyata lewat jalur selatan. Waktu tempuhnya lama sekali, apalagi di daerah Tegal ada perbaikan jalan yang macetnya sampai satu jam.
| Pertama kali naik Sumber Alam ke Jogjha, harus teliti lagi lewat mana, kalau ngejar waktu, jangan yang lewat jalur selatan |
Sampai Gombong akhirnya saya memutuskan menggunakan kereta api ke Jogja supaya sampai Tawangmangu tidak terlalu malam. Untungnya begitu sampai Jogja KRL ke Stasiun Palur di Solo sudah ready. Begitupun ketika sampai Stasiun Palur, bus ke Tawangmangu kebetulan lewat di pintu keluar stasiun. Mujur sekali saya hari itu.
| di Gombong saya turun dan langsung ganti kereta ke Jogja |
| Bus jurusan Tawangmangu yang ngetem di pintu keluar Stasiun Palur. |
| tidak lengkap ke Tawangmangu tanpa menikmati Sate Pak Pur |
| Profil elevasi jalur keliling Lawu |
| melewati vila-vila Tawangmangu |
| Gunung Lawu tampak jelas |
| Tawangmangu yang syahdu 😍😍😍 |
Berhubung saya belum sarapan, saya mampir di salah satu warung dekat basecamp pendakian Cemoro Kandang sekaligus istirahat setelah 7 km dihajar tanjakan. Saya pesan pentol kuah dan teh anget. Saya baru tau kalau pentol itu adalah bakso 😅. Saya pikir semacam cilok yang dominan tepung.
| belakang saya adalah Bukit Mongkrang |
| Perbatasan Jawa Tengah - Jawa Timur |
Saya belok kiri memasuki wilayah Singolangu, salah satu jalur pendakian Gunung Lawu. Sebenarnya jalur Singolangu ini adalah jalur bypass, bukan rute utama saya. Tapi berhubung jalur Singolangu agak mepet dengan gunung, rute ini yang akhirnya saya pilih.
| memasuki Singolangu |
| Peta kawasan Singolangu. biru - rute rencana; kuning - rute alternatif bypass; merah - rute yang saya larikan |
| ada tugu Monas 😅 |
Kondisi jalur sepanjang Kabupaten Magetan umumnya cor dan aspal. Kondisi langit cerah diselingi awan. Saya agak keteteran di jalur aspal karena suhu yang agak panas 😂.Rute jalur langit ini melintasi perkebunan warga, dan beruntungnya, saya tidak benar-benar sendirian karena mereka sedang bekerja di kebun. Oh ya setiap berpaspasan dengan warga biasakan menyapa duluan ya. Warga di sana sangat ramah.
Saya plot tempat makan di daerah Jabung yang terkenal dengan kolam pemandian mata air. Di daerah wisata ini ada beberapa tempat makan. Saya memilih makan nasi di sebuah warung. Karena kurang istirahat saya merasa agak mual. Tapi karena gak enakan sama yang punya warung saya berusaha menghabiskan nasinya 😂.
Di warung ini saya minta air buat nyiram kepala & badan supaya terhindar dari heatstroke. Ternyata warung yang saya singgahi ini jualan mie ayam
Yeee tau gitu pesen mie ayam 😌
Di daerah Bedagung saya hampir tersesat ketika berusaha bypass dua dusun yang dipisahkan lembah. Rute biru yang saya buat seharusnya melipir ke bawah sampai ada jembatan. Tapi kalau saya liat di citra satelit, ada jalur setapak yang mungkin saja bisa dilewati orang.
| hampir nyasar di Bedagung |
Saya tanya ke salah satu warga, apakah jalur ini bisa dilewati kalau mau ke dusun seberang? Jawabannya bisa, asal jalan kaki. Yeaah lumayan potong kompas. Begitu saya lewat jalur setapak, posisi saya agak melenceng dari jalur kuning 😂 mulai panik. Disitu saya berpikir tenang, dan saya menemukan tanggul batu, dan ternyata tanggul ini mengarah ke dusun sebelah. Kali ini saya selamat.
| Warung Mak Lampir dengan sajian Mie Grandong |
Sampailah saya di kawasan perkebunan teh Jamus, masih di Kabupaten Ngawi. Kebun teh ini luas sekali dan bentuknya memanjang. Sayangnya cuaca agak mendung, kalau cerah pasti bagus sekali pemandangan sunsetnya. Di sini saya mengalami insiden kram yang sangat parah. Ceritanya saat lari, saya melihat bangkai ular. Secara refleks saya loncat, dan betis kiri saya ketarik sampai bentuknya aneh 😢. Saya pun ambruk dan rasanya sakit sekali, menarik ujung jari kaki pun sulit.
Setelah mencoba rileks, akhirnya saya bisa menekuk telapak kaki. Perih sekali rasanya. Saya istirahat duduk di jalan makadam kebun teh, hampir 10 menit supaya rasa sakit ini reda.
Saya coba melangkah perlahan menuju area perkampungan tempat pabrik teh Jamus berada. Di sana ada Warung Penyet Lamongan. Saya langsung makan nasi dan beriatirahat. Hujan lebat turun dan memaksa saya istirahat lebih lama. Di sini ada kepikiran buat DNF dan balik ke Tawangmangu naik ojek.
Setelah 90 menit berlalu, cuaca makin membaik. Hujan berhenti, langit memerah dan Gunung Lawu terlihat jelas. Pemandangan yang keren ini meningkatkan motivasi saya untuk menyelesaikan keliling Lawu.
Menyusuri kebun teh yang berada di ketinggian ini, saya bisa menyaksikan pemandangan lampu-lampu pemukiman warga. Sebenernya agak nekat ya sendirian di kebun teh 😂, apalagi banyak sekali persimpangan. Makanya menganalisis jalur melalui citra satelit adalah hal mutlak ketika membuat rute lari.
| Pemandangan lampu lampu malam |
Ketika jalur kebun teh Jamus berakhir, maka selesai sudah segmen Jawa Timur. Saya masuk ke Desa Jenawi yang berada di Karanganyar, Jawa Tengah. Desa ini sudah sepi sekali, meski baru jam 7 malam. Jalur yang tadinya makadam, berubah menjadi aspal yang bisa dilalui kendaraan roda 4.
Memasuki Dusun Babar, jalur menanjak. Banyak sekali spanduk penolakan geothermal Lawu terpasang. Saya menyempatkan diri mampir di basecamp pendakian Lawu Jalur Babar milik Pak Jayadi. Meskipun bukan jalur resmi, fasilitas di basecamp lumayan baik. Ada beberapa pendaki yang baru saja turun. Saya memesan teh hangat dan ngobrol lumayan lama dengan Pak Jayadi tentang suka duka mengelola jalur pendakian Babar. Ketika saya mau bayar, ternyata Pak Jayadi menggratiskan teh manis hangatnya, makasih Pak'e.
| Pemandangan lampu lampu di Kota Solo begitu turun dari Candi Cetho |
| Segoro Gunung |
Di Telaga Mardida saya yang sudah kelelahan menghadapi tanjakan dan turunan, ndeprok di jalan yang sunyi. Tiba-tiba saya mendengar suara minyak goreng yang mendidih, tanda ada orang yang sedang memasak. Ternyata di belakang saya duduk adalah warung yang sudah tutup, tapi dengan lampu yang menyala. Terdengar suara suami istri dengan bahasa jawa.
| Sukun goreng dan teh hangat |
Puas makan malam di warung tadi saya melanjutkan perjalanan. Awalnya rute mau saya ubah melewati Grojokan Sewu yang lebih ramai. Tapi rasa lelah dan ngantuk yang amat sangat, membuat saya tetap memilih jalur Pancot, ya dengan risiko jalurnya sepi sekali mana ngelawatin beberapa kuburan pula. Jalur Telaga Mardida - Wonderpark sama kayak jalur SLU.
| sampai di Pancot 😂, tempat paling iconic bagi pelari SLU |
| finish |
- Jarak : 85.61 km
- Elevation Gain : 3.741 m
- Durasi : 17 jam 29 menit
- Vest - Aeonji
- Sepatu - Hoka Speedgoat 6
- Jam - Amazfit Trex 3
Rute Keliling Lawu Jalur Langit : Biru, Rute Ring of Lawu by Siksorogo : Merah
Komentar
Posting Komentar