Keliling Lawu Jalur Langit (seri terakhir keliling gunung)

Akhirnya sampai juga di jalur keliling Gunung Lawu, seri terakhir jalan kaki keliling gunung 😉


Dari Jakarta saya naik bus Sumber Alam menuju Jogja, dan rencana nyambung menggunakan KRL ke Solo lalu bus ke Tawangmangu. Kenapa mampir di Jogja? Karena ada rencana buat plesiran singkat dan rasa kangen sama gudeg. Saya yang pertama kali menggunakan Bus Sumber Alam baru tau kalau bus yang saya tumpangiternyata lewat jalur selatan. Waktu tempuhnya lama sekali, apalagi di daerah Tegal ada perbaikan jalan yang macetnya sampai satu jam. 
Pertama kali naik Sumber Alam ke Jogjha, harus teliti lagi lewat mana, kalau ngejar waktu, jangan yang lewat jalur selatan

Sampai Gombong akhirnya saya memutuskan menggunakan kereta api ke Jogja supaya sampai Tawangmangu tidak terlalu malam. Untungnya begitu sampai Jogja KRL ke Stasiun Palur di Solo sudah ready. Begitupun ketika sampai Stasiun Palur, bus ke Tawangmangu kebetulan lewat di pintu keluar stasiun. Mujur sekali saya hari itu.

di Gombong saya turun dan langsung ganti kereta ke Jogja

Bus jurusan Tawangmangu yang ngetem di pintu keluar Stasiun Palur. 

tidak lengkap ke Tawangmangu tanpa menikmati Sate Pak Pur

Saya kemping di Wonderpark Tawangmangu selama tiga hari. Tempat ini menjadi venue Ring of Lawu by Siksorogo. Suasana Tawangmangu saat itu sering hujan, termasuk saat saya selesai mendirikan tenda, setengah jam kemudian hujan sangat lebat 😅. 

Awalnya saya agendakan untuk start di hari Sabtu jam 21. Tapi kondisi masih gerimis dan petir sahut sahutan. Saya lihat situasi di jam 24, kalau cuaca masih seperti ini maka lebih baik rencana mengelilingi Lawu saya tunda. Sayapun agak ragu start malam, mengingat jalur langit segmen Magetan masih belum ada gambaran. Akhirnya saya memutuskan untuk tidur dan menunda lari keliling Lawu di lain waktu.

Jam 6 pagi saya terbangun. Cuaca lumayan cerah dan Gunung Lawu terlihat jelas. Sepertinya saya semakin yakin untuk melanjutkan rencana keliling Lawu hari ini. Segala macam perlengkapan sudah ready sejak malam, antisipasi kalau mood lari masih ada. Jadi begitu bangun, saya tinggal pakai saja. Barang-barang penting saya titip di loket.

Rute keliling Gunung Lawu yang saya buat, melintasi jalur penghubung antar desa yang arahnya berlawanan dengan jarum jam. Puncak elevasi di Cemoro Kandang yang ada di ketinggian 1.200 mdpl. Sementara elevasi terendah ada di Ngarayudan Ngawi dengan ketinggian 515 mdpl.
Profil elevasi jalur keliling Lawu

Di segmen awal, saya langsung 'kena hajar' tanjakan jalan raya Tawangmangu - Sarangan dari Wonderpark  ke Cemoro Kandang. Suasana jalan saat itu cukup ramai karna bertepatan dengan libur panjang. 
melewati vila-vila Tawangmangu

Gunung Lawu tampak jelas

Tawangmangu yang syahdu 😍😍😍

Berhubung saya belum sarapan, saya mampir di salah satu warung dekat basecamp pendakian Cemoro Kandang sekaligus istirahat setelah 7 km dihajar tanjakan. Saya pesan pentol kuah dan teh anget. Saya baru tau kalau pentol itu adalah bakso 😅. Saya pikir semacam cilok yang dominan tepung. 
belakang saya adalah Bukit Mongkrang

Memasuki gapura perbatasan Jawa Tengah - Jawa Timur, jalur menurun panjang. Saya memilih jalur Lawu lama supaya lebih sepi dan gak terlalu berkelok. 
Perbatasan Jawa Tengah - Jawa Timur

Saya belok kiri memasuki wilayah Singolangu, salah satu jalur pendakian Gunung Lawu. Sebenarnya jalur Singolangu ini adalah jalur bypass, bukan rute utama saya. Tapi berhubung jalur Singolangu agak mepet dengan gunung, rute ini yang akhirnya saya pilih. 
memasuki Singolangu

Peta kawasan Singolangu. biru - rute rencana; kuning - rute alternatif bypass; merah - rute yang saya larikan
Kalau dari peta di atas, terlihat sekali rasa penasaran saya 😅. Awalnya saya comply sama jalur kuning. Tapi di lapangan saya melihat ada jalur yang masih mepet gunung dan dari obrolan warga yang saya jumpai, jalur itu tembus ke desa sebelah, tanpa ragu saya kembali bypass, mengabaikan jalur kuning, untuk kembali ke jalur keliling Lawu yang utama (biru).

ada tugu Monas 😅

Kondisi jalur sepanjang Kabupaten Magetan umumnya cor dan aspal. Kondisi langit cerah diselingi awan. Saya agak keteteran di jalur aspal karena suhu yang agak panas 😂.Rute jalur langit ini melintasi perkebunan warga, dan beruntungnya, saya tidak benar-benar sendirian karena mereka sedang bekerja di kebun. Oh ya setiap berpaspasan dengan warga biasakan menyapa duluan ya. Warga di sana sangat ramah. 

Saya plot tempat makan di daerah Jabung yang terkenal dengan kolam pemandian mata air. Di daerah wisata ini ada beberapa tempat makan. Saya memilih makan nasi di sebuah warung. Karena kurang istirahat saya merasa agak mual. Tapi karena gak enakan sama yang punya warung saya berusaha menghabiskan nasinya 😂.

Di warung ini saya minta air buat nyiram kepala & badan supaya terhindar dari heatstroke. Ternyata warung yang saya singgahi ini jualan mie ayam

 Yeee tau gitu pesen mie ayam 😌

Di daerah Bedagung saya hampir tersesat ketika berusaha bypass dua dusun yang dipisahkan lembah. Rute biru yang saya buat seharusnya melipir ke bawah sampai ada jembatan. Tapi kalau saya liat di citra satelit, ada jalur setapak yang mungkin saja bisa dilewati orang.

hampir nyasar di Bedagung

Saya tanya ke salah satu warga, apakah jalur ini bisa dilewati kalau mau ke dusun seberang? Jawabannya bisa, asal jalan kaki. Yeaah lumayan potong kompas. Begitu saya lewat jalur setapak, posisi saya agak melenceng dari jalur kuning 😂 mulai panik. Disitu saya berpikir tenang, dan saya menemukan tanggul batu, dan ternyata tanggul ini mengarah ke dusun sebelah. Kali ini saya selamat.

Warung Mak Lampir dengan sajian Mie Grandong

Sampailah saya di kawasan perkebunan teh Jamus, masih di Kabupaten Ngawi. Kebun teh ini luas sekali dan bentuknya memanjang. Sayangnya cuaca agak mendung, kalau cerah pasti bagus sekali pemandangan sunsetnya. Di sini saya mengalami insiden kram yang sangat parah. Ceritanya saat lari, saya melihat bangkai ular. Secara refleks saya loncat, dan betis kiri saya ketarik sampai bentuknya aneh 😢. Saya pun ambruk dan rasanya sakit sekali, menarik ujung jari kaki pun sulit.

Setelah mencoba rileks, akhirnya saya bisa menekuk telapak kaki. Perih sekali rasanya. Saya istirahat duduk di jalan makadam kebun teh, hampir 10 menit supaya rasa sakit ini reda.

Saya coba melangkah perlahan menuju area perkampungan tempat pabrik teh Jamus berada. Di sana ada Warung Penyet Lamongan. Saya langsung makan nasi dan beriatirahat. Hujan lebat turun dan memaksa saya istirahat lebih lama. Di sini ada kepikiran buat DNF dan balik ke Tawangmangu naik ojek.

Setelah 90 menit berlalu, cuaca makin membaik. Hujan berhenti, langit memerah dan Gunung Lawu terlihat jelas. Pemandangan yang keren ini meningkatkan motivasi saya untuk menyelesaikan keliling Lawu.

Menyusuri kebun teh yang berada di ketinggian ini, saya bisa menyaksikan pemandangan lampu-lampu pemukiman warga. Sebenernya agak nekat ya sendirian di kebun teh 😂, apalagi banyak sekali persimpangan. Makanya menganalisis jalur melalui citra satelit adalah hal mutlak ketika membuat rute lari.

Pemandangan lampu lampu malam

Ketika jalur kebun teh Jamus berakhir, maka selesai sudah segmen Jawa Timur. Saya masuk ke Desa Jenawi yang berada di Karanganyar, Jawa Tengah. Desa ini sudah sepi sekali, meski baru jam 7 malam. Jalur yang tadinya makadam, berubah menjadi aspal yang bisa dilalui kendaraan roda 4. 

Memasuki Dusun Babar, jalur menanjak. Banyak sekali spanduk penolakan geothermal Lawu terpasang. Saya menyempatkan diri mampir di basecamp pendakian Lawu Jalur Babar milik Pak Jayadi. Meskipun bukan jalur resmi, fasilitas di basecamp lumayan baik. Ada beberapa pendaki yang baru saja turun. Saya memesan teh hangat dan ngobrol lumayan lama dengan Pak Jayadi tentang suka duka mengelola jalur pendakian Babar. Ketika saya mau bayar, ternyata Pak Jayadi menggratiskan teh manis hangatnya, makasih Pak'e.

Pemandangan lampu lampu di Kota Solo begitu turun dari Candi Cetho

Segoro Gunung

Di Telaga Mardida saya yang sudah kelelahan menghadapi tanjakan dan turunan, ndeprok di jalan yang sunyi. Tiba-tiba saya mendengar suara minyak goreng yang mendidih, tanda ada orang yang sedang memasak. Ternyata di belakang saya duduk adalah warung yang sudah tutup, tapi dengan lampu yang menyala. Terdengar suara suami istri dengan bahasa jawa.

Saya langsung berteriak "Bu, masih jual teh anget?"

Bapak di dalam warung itu membuka terpal yang menutupi pintu dan mempersilakan saya masuk. Asyiik, masih buka warungnya. Saya langsung pesan mie instant. Ibu tadi ternyata sedang menggoreng talas. Wah malam yang perfect pokoknya. Kami mengobrol lumayan lama, dan mereka sangat ramah. 
Sukun goreng dan teh hangat

Puas makan malam di warung tadi saya melanjutkan perjalanan. Awalnya rute mau saya ubah melewati Grojokan Sewu yang lebih ramai. Tapi rasa lelah dan ngantuk yang amat sangat, membuat saya tetap memilih jalur Pancot, ya dengan risiko jalurnya sepi sekali mana ngelawatin beberapa kuburan pula. Jalur Telaga Mardida - Wonderpark sama kayak jalur SLU.
sampai di Pancot 😂, tempat paling iconic bagi pelari SLU

Dengan sisa tenaga yang ada, pukul 00.11 saya tiba di Wonderpark Tawangmangu.
finish
Serius, jalur keliling Lawu itu enak sekali, tidak seberat Lawu. Hanya saja waktu startnya saja yang salah. Menurut saya, start ideal itu di sekitar jam 3 pagi, supaya sampai kebun teh Jamus dan Kemuning tidak terlalu malam. Malah kalau cuaca cerah, bisa menikmati sunset di kedua segmen kebun teh tersebut. Secara umum, jalur yang saya lewati cukup aman, tidak ada bekas longsor meskipun sering sekali diguyur hujan lebat. Jalurnya variatif sekali, mulai dari aspal, cor-coran, makadam, jalur tanah berlumpur, silakan pilih sepatu yang kuat ya.

Untuk warung kelontong tidak perlu khawatir karena di sepanjang rute akan melewati banyak perkampungan. Pun dengan toilet, bisa mampir ke mushola/masjid. Tempat ideal untuk istirahat lama adalah kawasan wisata di kolam pemandian Jabung dan pabrik teh di Jamus. Banyak warung makannya.

Keliling Lawu Jalur Langit, Self Support
  • Jarak : 85.61 km
  • Elevation Gain : 3.741 m
  • Durasi :  17 jam 29 menit
  • Vest - Aeonji
  • Sepatu - Hoka Speedgoat 6
  • Jam - Amazfit Trex 3

Download GPX Mubengi Lawu 

Rute Keliling Lawu Jalur Langit : Biru, Rute Ring of Lawu by Siksorogo : Merah

Komentar